Diposting tanggal: 11 Mei 2011
Jakarta, sebagai ibu Kota Negara, Kota Metropolitan
memiliki daya tarik masyarakat untuk mencari hidup dan mencari
penghidupan bagi masyarakat di daerah. Kehadiran mereka di Jakarta
menimbulkan permasalahan kependudukan, diantaranya kepadatan penduduk
dan kebutuhan akan tempat tinggal. Lahan untuk tempat tinggal di
Jakarta, sudah tidak memungkinkan, sehingga daerah di sekitar Bekasi
menjadi alternatif penyediaan lahan perumahan. Bekasi sebagai daerah
penyangga Ibu Kota menerima dampak tersebut dengan munculnya
perumahan-perumahan dan pendatang baru.
Dampak tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat Kota Bekasi, salah satu
adalah tuntutan untuk penyediaan sarana pendidikan. Hal ini disebabkan
oleh perkembangan pesatnya penduduk usia sekolah sebagai konsekuensi
dari bertambahnya jumlah penduduk akibat urbanisasi, sementara
penambahan sarana dan prasarana pendidikan terutama jumlah sekolah tidak
seimbang dengan pertumbuhan penduduk.
Angka Partisipasi Kasar di Kabupaten Bekasi pada tahun 1982 rendah,
sehingga mendorong Bupati Bekasi, yaitu Bapak Sukomartono mengijinkan
kepala Kandepdikbud Kabupaten Bekasi untuk membuka sekolah kelas jauh
(filial) bagi SMA. Kebijakan tersebut bertentangan dengan sistem
pendidikan di Indonesia, karena tidak ada sekolah kelas jauh (filial)
bagi SMA.
Menghadapi kondisi demikian Kepala SMA Negeri 1 di Kabupaten Bekasi
berinisiatif mempersiapkan untuk membuat sekolah filial SMA Negeri 2,
Kepala SMA Negeri 1 membuat persiapan-persiapan yang diperlukan untuk
mendirikan sekolah filial. Persiapan awal yang dilakukan adalah lahan
yang layak untuk berdirinya sekolah filial disekitar Bekasi Selatan.
Pada waktu itu ditawari Perumnas tanahnya cukup memadai seluas 9050 M2,
tanah tersebut adalah tanah fasos dan fasum Perumnas. Dengan izin
pendirian berdasarkan Daftar Isian Proyek No. 14/XXIII/3/1982 tanggal
11-03-1982, SK Pendirian Mendikbud / tentang pembukaan / peningkatan /
penegerian, izin operasional Kepala Bidang Kanwil Depdikbud Propinsi
Jawa Barat, izin bangunan; SK Bupati Kepala Daerah Tk. II Bekasi Nomor :
642/SK.337/PUK/1989 tanggal 13-04-1989 sertifikat tanah nomor :
33.626/II/1992, tanggal 16-09-1992luas bangunan 6600 M2, luas halaman /
kebun : 2450 M2, perubahan nama sekolah: pemberlakuan nomerklatur
sekolah SMU Negeri 2 Bekasi menjadi SMA Negeri 2 Bekasidengan surat
edaran Kepala Sekolah Nomor : 114/102.7/SMA.04/1997, tanggal 26 Mei 1997
berlaku mulai : 2 Juni 1997
Sejak berdirinya sampai dengan sekarang SMA Negeri 2 Bekasi sudah
mengalami beberapa kali pergantian pimpinan, yaitu :
|
Pada periode 1982 sampai 1984 SMA Negeri 2 Bekasi masih menggunakan fasilitas belajar SMA Negeri 1 Bekasi karena bangunan SMA Negeri 2 Bekasi yang terletak dijalan Tangkuban Perahu Perumnas II Bekasi masih dalam proses pembangunan. Pada tahun 1984 Ny. Siti Bulan Rasyid resmi dilantikan menjadi SMA Negeri 2 Bekasi sedangkan Kepala SMA Negeri 1 Bekasi di Jabat oleh Drs. Maman. Dengan telah selesinya pembangunan gedung SMA Negeri 2 Bekasi dan telah definitifnya Kepala Sekolah maka pada tanggal 2 April 1984 SMA Negeri 2 Bekasi hijrah dari induknya di SMA Negeri 1 Bekasi ke gedung baru di Perumnas II bekasi, tanggal hijrahnya SMA Negeri 2 Bekasi dari SMA Negeri 1 Bekasi inilah yang kemudian dijadikan sebagai tanggal hari jadi SMA Negeri 2 Bekasi. Periode ini merupakan periode peletakkan dasar-dasar manajemen, struktur dan kultur pendidikan yang akan dikembangkan di sekolah. Dengan kondisi sekolah yang masih sangat sederhana karena terbatasnya fsilitas dan sarana pembelajaran, Ny. Siti Bulan Rasyid bersama dewan guru dan staf tata usaha berusaha keras melengkapi sarana prarana, struktur dan instrastruktur yang diperlukan dalam pengelolaan manajemen sekolah yang baik dan ideal, yang diharapkan pada gilirannya akan menghasilkan output yang baik. Upaya beliau ternyata tidak sia-sia, dalam kurun waktu yang relatif singkat SMA Negeri 2 Bekasi berhasil menjadi sekolah yang cukup diperhitungkan kualitasnya di wilayah Bekasi. Prestasi demi prestasi diraih baik dalam bidang akademis, olaraga maupun kesenian serta bidang-bidang lainnya. Animo masyarakat untuk memasukkan putra-putrinya ke SMA Negeri 2 Bekasi semakin besar maka atas inisiatif Kepala Sekolah dan rekomendasi dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bekasi, SMA Negeri 2 Bekasi membuka kelas jauh (filial) untuk wilayah Pondok Gede yang bertempat di SMP Negeri 1 Pondok Gede yang kemudian menjadi SMA Negeri 5 Bekasi. Padahal sebelumnya pun SMA Negeri 2 Bekasi ditunjuk untuk menjadi tempat proses KBM siswa SMA Negeri 3 Bekasi gedungnya sedang dalam proses penyelesaian di wilayah Pekayon Bekasi Selatan.
Dibawah kepemimpinannya SMA Negeri 2 Bekasi terus
dikembangkan kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan tuntutan pemerintah
daerah dan harapan masyarakat. Pada periode ini pun minat masyarakat
Bekasi untuk memasukkan putra-putrinya ke SMA Negeri 2 Bekasi sangat
besar sehingga sehingga pemerintah daerah memberikan rekomendasi kepada
SMA Negeri 2 Bekasi untuk membuka filial atau kelas jauh di wilayah
Jatiasih yang kemudian menjadi SMA Negeri 6 Bekasi.
Peningkatan kualitas SDM digalakkan secara besar-besaran, baik dewan
guru maupun staf tata usaha dianjurkan untuk melanjutkan studinya
sehingga memenuhi standar kualifikasinya masing-masing. Pada periode ini SMA Negeri 2 Bekasi telah betul-betul menjadi terfavorit kedua setelah SMA Negeri 1 Bekasi. Hal ini bisa dilihat dari semakin besarnya minat masyarakat untuk memasukkan putra-putrinya ke SMA Negeri 2 Bekasi. Atas inisiatif dari masyarakat Bantar Gebang dan berdasarkan rekomendasi dari Wali Kota Bekasi Drs. Nonon Sontani, maka dibukalah kelas jauh SMA Negeri 2 Bekasi untuk wilayah Mustika Sari Kecamatan Bantar Gebang yang kemudian menjadi SMA Negeri 9 Bekasi. Pada periode ini mulai diterapkan sistem manajemen berbasis sekolah mengingat SMA Negeri 2 Bekasi ditetapkan sebagai sekolah unggulan di Bekasi. Visi dan Misi sekolah mulai dirumuskan, profesionalisme guru lebih ditingkatkan dengan mengirimkan beberapa tenaga guru untuk mengikuti pendidikan latihan dan penataran baik di tingkat daerah, propinsi maupun pusat. SMA Negeri 2 Bekasi semakin menunjukkan dirinya sebagai salah satu sekolah unggulan di Bekasi. Wajar kalau kemudian banyak guru-guru SMA Negeri 2 Bekasi dipercaya untuk memegang jabatan ketua MGMP ditingkat Kabupaten dan Kota Bekasi, bahkan ada diantaranya yang dipercaya untuk mengurus MGMP di tingkat Propinsi Jawa Barat. Beberapa guru pun ada yang ditetapkan sebagai guru inti oleh Kanwil Depdikbud Jawa Barat. Bahkan ada beberapa sekolah swasta di Bekasi yang kepala sekolahnya dipercayakan kepada guru-guru SMA Negeri 2 Bekasi. Hal ini membuktikan keberhasilan pembinaan kepala sekolah terhadap guru dan staf tata usaha dari periode awal sampai sekarang. Pada periode ini upaya peningkatan kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Bekasi terus dilakukan antara lain dikuranginya jumlah rombongan belajar kelas 1 dari 11 kelas menjadi 9 kelas dalam rangka memenuhi persyaratan akreditas peningkatan kategori dari tipe B ke tipe A. Diharapkan dalam 3 tahun kedepan hanya ada 1 shif rombongan belajar pagi, tidak ada lagi rombongan belajar siang. Sejak diberlakukannya sistem akreditas nasional dalam bidang pendidikan, pada periode inilah SMA Negeri 2 Bekasi diakreditasi dengan hasil A. SMA Negeri 2 Bekasi adalah satu-satunya SMA di Bekasi yang ditunjuk oleh pusat untuk uji coba pelaksanaan kurikulum 2004 yang berbasis pada kompetensi, wajar kalau kemudian SMA Negeri 2 Bekasi dijadikan sebagai rujukan bagi SMA-SMA lainnya di Bekasi dalam pelaksanaan kurikulum 2004. Pemahaman dan pemasyarakatan kurikulum 2004 kepada guru dan orang tua murid dilakukan dengan belalui In House Training dan Training On Trainer. Untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 2004 diadakan penambahan-penambahan fasilitas baru seperti ruang media, laboratorium komputer, sistem komputerisasi dalam administrasi penilaian dan pemasangan jaringan internet. Pada periode ini semua rombongan belajar telah menggunakan kurikulum 2004. Rombongan belajar pun hanya 1 shif pagi tidak ada rombongan belajar siang. Waktu belajar hanya 5 hari mulai Senin sampai Jumat, kecuali Kelas XII sampai Sabtu karena adanya tambahan jam belajar. Hari Sabtu pagi Kelas X dan XI digunakan untuk remedial dan kegiatan ekstrakurikuler. Kepala Sekolah yang sekarang bertekad untuk lebih meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru dan staf tata usaha sehingga akan terjalin mekanisme kerja yang ideal. Pola-pola manajemen lama yang kurang mendukung terhadap pelaksanaan kurikulum 2004 sedikit demi sedikit diganti dengan pola-pola manajemen baru yang lebih demokaratis, diskutif dan partisipatif. |





Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online 